Free West Papua

Senin, 04 Februari 2013

Membaca Papua Lewat Gus Dur

Jakarta,Sebuah buku yang ditulis Titus Pekei berjudul Gus Dur, Guru & Masa Depan Papua; Hidup Damai Lewat Dialog telah dirilis di gedung Sinar Kasih, Jl Dewi Sartika, Jakarta, Kamis, kemarin. Buku yang disunting Apul D.Maharadja dan diterbitkan PT Pustaka Sinar Harapan itu, setebal xxiv dan 253 halaman, dan terdiri dari 18 bab.
Sebagaimana judulnya, buku yang kata sambutannya ditulis Lily Chodijah Wahid --adik Gus Dur-- hampir di keseluruhan bab-nya berisi tentang sepak terjang mendiang Gus Dur dalam memuliakan propinsi paling Timur Indonesia itu. Bahkan di bab 2 dari judulnya sudah bisa ditebak mau ke mana pembaca dibawa; Riwayat Perjalanan Gus Dur (hal 7). Demikian di bab selanjutnya, seperti bab 3 yang bernarasi tentang "Gus Dur Guru Papua" (hal 27). Bab 4: Jasa Gus Dur "Dari Irian Jaya Diakui Menjadi Papua" (hal 43). Bab 5: "Presiden SBY; Gus Dur Bapak Pluralisme" (hal 53), juga di beberapa bab lainnya. Intinya, Pekei ingin mengatakan, hanya Gus Dur lah yang paling tahu, bisa dan mampu memahami bagaimana menempatkan dan memperlakukan Papua sebagaimana mustinya. Karena sebagai bagian dari wilayah dan warga bangsa, pendekatan kepada Papua harus melalui pendekatan sosiologis, antropologis, yuridis dan dialogis, "Dan itu semua sudah dilakukan oleh Guru Bangsa Gus Dur," imbuh Titus Pakei. Padahal kekayaan sumber daya alam sangat luar biasa, tapi sayangnya hingga kini, belum bisa sepenuhnya digunakan untuk kemakmuran rakyat yang tinggal di sana. Contoh sederhananya dengan mengembalikan nama Irian menjadi Papua, misalnya. Irian yang dalam sebuah cerita bisa diartikan sebagai Irian Ikut Indonesia Anti Nederlands, sayangnya, sampai kini pun, karena belum ada political will (niat baik) dari pemerintah, ujar Lily Chodijah Wahid, Anggota DPR-RI, yang menjadi satu pembicara dalam bedah buku itu, "Belum berhasil membuat Papua ditempatkan di tempat semestinya." Lily menambahkan, nurani penyelenggara negara saat ini yang dia nilai sudah tidak ada. "Membuat kita semua, bukan hanya rakyat Papua yang dibohongi dan dibodohi oleh sistem," katanya. Oleh karena itu, sebagaimana dia tulis di kata sambutan buku ini, Lily merindukan politik keberpihakan dan pendekatan kemanusiaan di tanah Papua. Meski dia menyadari, memiliki keberpihakan kepada orang yang terpinggirkan sangat membutuhkan nyali. (Hak xv). Lalu mengapa hanya Gus Dur, paling tidak hingga saat ini, yang sangat dekat dan concern dengan isu keperpihakan? Karena Gus Dur, masih menurut Lily, sangat memahami dan menghayati karakter dan jati diri bangsa yang beragam, harus diletakkan dalam karakter multikulturalisme, "Yang mengacu pada pemenuhan hak-hak kewarganegaraan (civil rights)." Dengan buku ini, Pekei sebagaimana Lily juga berharap, tidak semata ingin memberikan ingatan pembaca atas sosok Gus Dur yang dekat dengan masyarakat Papua. Tapi juga sekaligus kerinduan Pekei kepada publik terhadap politik keberpihakan, pendekatan kemanusiaan, dan penegakan keadilan yang telah dirintis Gus Dur.
sumber :http://www.suaramerdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar